2/25/2009

Penyimpangan-penyimpangan dalam Penafsiran Al Quran

Pendahuluan
Al Quran adalah kalam Allah yang sudah dijaga keasliannya. Hal ini berbeda dengan tafsirnya, atas paksaan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, maka tidak dipungkiri lagi semakin luas pula penafsiran terhadap al Quran, dan juga akan semakin banyak orang yang berusaha menafsirkannya dengan mementingkan sikap egoismenya tanpa memperhatikan kebenaran yang mutlak.
Di antara kita ada yang beranggapan bawa buku tafsir al Quran adalah buku suci. Mereka lupa bahwa para mufassir yang menyusun kitab-kitab tafsir itu adalah juga manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa. Tafsir adalah bidang kajian yang sangat terbuka dan luas untuk diijtihadkan. Maka hal ini tidak menutup kemungkinan bagi para mujtahid dalam menuangkan buah pikirannya dalam sebuah media yang sangat strategis tersebut.
Para misionaris dan orientalis yang culas juga banyak menyelipkan hal-hal yang menyesatkan dalam penafsiran mereka terhadap al Quran, yang kemudian menulis buku dan kitab denga maksud merendahkan kitab Allah.
Sekarang, tuga kita adalah memilih dan memilah antara yang layak dan tidak layak untuk disampaikan ke masyarakat. Sehingga masyarakat tidak dibodohi dan tidak mudah dipecah belahkan oleh kaum-kaum yang mau menghancurkan islam.
Dalam makalah ini kami akan membahas hal-hal yang merupakan tindakan penodaan terhadap tafsir al Quran, dengan cara menyimpang dari kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan oleh ulama mufassirin.

Pengertian Penyelewengan dalam Penafsiran al Quran
Perkembangan tafsir al Quran dilakukan melalui dua periode yaitu periwayatan dan pembukuan. Dalam perjalanannya tafsir bilma’tsur berakhir dengan dihapusnya isnad-isnad, dan orang mengutipnya dengan menghilangkan sanad-sanad tersebut. selain itu juga tafsir al aqli atau rasional berakhir karena di dominasinya oleh kecenderungan-kecenderungan orang dan madhab teolojik dan madzhab-madzhab lain. Dengan demikian tidak dipungkiri lagi bahwa dengan dihilangkannya isnad-isnad dalam tafsir bilma'tsur dan pengutipan tanpan disebutkan sanad-sanadnya itu memberikan peluang kepada orang untuk berbuat kejahatan, dalam hal ini menyelewengkan apa-apa yang seharusnya tidak terjadi dalam menafsirkan al Quran. Karena ada kemungkinan terjadi manipulasi legenda israiliyat atau cerita cerita masyarakat bani israil yang banyak tidak masuk akal sehingga difonis bahwa cerita tersebut bersumber dari Nabi Muhammad, padahal ini terjadi sekedar untuk menonjolkan ambisi individual atau madzhab dan untuk menyembunyikan kerencuan pemikiran mereka. Tanpa adanya pengujian terhadapa kebenaran tafsir tersebut, pada akhirnya banyak kaum muslimin yang keracunan cerita-cerita israiliyat yang seharusnya tidak terjadi dalam menafsirkan al Quran. Itu merupakan sebagian cara atau usaha untuk memalingkan maksud al Quran dari tujuan asalnya, dan masih banyak cara lainnya yang akan dibahas selanjutnya.

Sebab Sebab Terjadi Penyimpangan dalam Penafsiran Al Quran
Banyak faktor yang menyebabkan mereka berani untuk melakukan penyelewengan terhadap tafsir al Quran, diantaranya:
1) Kecenderungan mufassir terhadap makna yang diyakininya tanpa melihat petunjuk dan penjelasan yang terkandung dalam lafadz-lafadz al Quran tersebut.
2) Kecenderungan mufassir untuk semata-mata memperhatikan lafadz dan maknanya yang bisa difahanu oleh penutur bahada Arab, tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh yang berbicara dengan al Quran tersebut, yang dibicarakan olehnya dan siyak (konteks) kalimatnya.
3) Adanya ambisi besar dari din individu untuk melakukan penyelewengan tafsir tanpa memperhatika apa yang akan terjadi di kemudian hari.
4) Adanya dorongan dari madzhab atau aliran dengan bermaksud untuk menyembunyian menyembunyikan kerancuan pemikiran mereka dan menonjolkan pemikiran aliran atau madzahbnya sendiri.

Macam-macam dan Contoh

1. Penyimpaiigan Tafsir oleh Para Sejarawan
Sikap selektif yang di lakukan para sejarawan tidak selalu dapat di pertahankan secara terus menerus. Pada masa tabi'in, banyak kisah israiliyat yang diselundupkan ke dalam tafsir al Quran. Hal ini disebabkan oleh banyaknya ahli kitab yang masuk islam dan adanya keinginan dari kalangan ummat islam pada waktu itu untuk mengetahui kisah kisah selengkapnya mengenai ummat yahudi, nasrani, dan sebagainya yang dalam al Quran hanya di sebutkan secara garis besarnya saja. Oleh karena itu banyak kelompok mufassirin yang ingin mengisi kekosongan dalam hal ini yang menurut mereka dengan memasukkan kisah-kisah yang bersumber dari orang yahudi dan nasrani itu, sehingga karennya tafsir tersebut penuh dengan kisah dan bahkan mendekati pada takhayul dan khurafat.
Mufassir yang dikenal besar perhatiannya dalam hal ini diantaranya Abu Ishak Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Ats Tsa'labi. la adalah seorang yang biasa berpidato memberi nasihat kepada masyarakat atau sering disebut da'i, seorang dai biasanya sangat mementingkan cerita sebagai isi dakwah. Hal ini dapat kita lihat didalam kitab yang ditulinya berjudul Al-Arais yang berisi tentang kisah kisah para nabi pada umumnya ditulis panjang-panjang sehingga pambaca menjadi bosan. Contoh yang dikemukakan dalam bukunya Ats-tsa'labi adalah kisah Ashabul Kahfi. Dalam kisah tersebut di sebutkan nama-nama Ashabul Kahfi dan nama anjing mereka, berikut dialog yang terjadi antara Ashabul Kahfi dan anjing yang terus membuntuti mereka. Yang paling mengherankan dalam kisah ini adalah adanya keterangan bahwa Nabi Muhammad memohon kepada Allah agar dipertemukan dengan mereka di dunia, tetapi kemudian Allah memberikan jawaban bahwa Muhammad tidak akan dipertemukannya di dunia, dan beliau di suruh agar mengutus empat sahabat pilihannya untuk menyampaikan risalah beliau kepada mereka. Dalam kisah ini kemungkinan adanya manipulasi dan keterangan yang meragukan. Dr. Muhammad Husain Adz-Dzahbi berpendapat bahwa dalam kisah itu terdapat bagian yang menunjukkan adanya manipulasi dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW. Muhammad adalah bukan orang yang suka berbuat iseng meminta kepada tuhan agar dipertemukan dengan pemuda-pemuda Ashabul Kahfi, seandainya kisah tersebut betul, mengapa ada permintaan Nabi Muhammad yang tidak di kabulkan dan bahkan ditugaskan kepada empat orang sahabat untuk menemui mereka dengan mata kepala sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad sudah hina dihadapan Allah sehingga permintaannya tidak bisa dikabulkan, sementara sahabatnya memperoleh apa yang menjadi permintaannya.

2. Penyimpangan Tafsir oleh Para Ahli Tata Bahasa Arab
Di antara mufassir yang melakukan penyimpangan seperti ini adalah Azzamakhsyari dengan kitab tafsirnya Almuharrarul Wajizfi Tafsiri Kitabi Aziz. Yang paling menonjol dalam kitab tersebut adalah penafsiran terhadap firman Allah surat Al Anam: 137 yang berbunyi:

وكذالك رين لكثير من المشركين قتل اولادهم شركاؤهم

Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menyebabkan kebanyakan orang musyrikin itu memandang baik untuk membunuh anak anak mereka.
Ayat ini ditafsirkan menurut qiraat Hafs, fiilnya dibaca zayyana dalam bentuk aktif atau mabni lil ma'lum dan failnya syurakaauhum. Sedangkan menurut quraat lain fiilnya di baca zuyyina dalam bentuk pasif atau mabni lil majhul, dan objeknya adalah kata qatla yang digabungkan dengan lafadz auladihim, sedangkan kata syurakauhum dikaitkan dengan sebuah kata kerja yang tersembunyi yaitu zayyana. Jadi seakan akan ada pertanyaan "siapakah yang menyebabkan mereka menganggap baik?", kemudian dijawab yang menyebabkan adalah pemimpin mereka.
Begitu juga kita jumpai Ibnul Munir as-Sukandari dalam bukunya Al-Intishab yang dicetak bersamaan dengan Al-Kasysyaf mengomenteri ucapan Az-Zamakhsyari dengan menyatakan: "Pengarang dalam bab ini seperti orang buta dan kebingungan. Saya merasa bertanggung jawab dihadapan Allah untuk membebaskan para pembaca kitab suci dan pemelihara firman-Nya dari tuduhan ini. Az-Zamakhsyari berkhayal bahwa sara imam qiraat tujuh itu masing-masing memilih satu bacaan menurut ijtihad mereka tanpa dasar riwayat ataupun tuntunan (dari Nabi). Oleh karena itu dia menyalahkan Ibnu Amir dengan bacaannya ini". Lebih lanjut Ibnul Munir mengutip kata-kata Az 'amakhsyari yang menyalahkan Ibnu 'Amir itu kemudian mengomentarinya sebagai berikut: "Ini seperti anda ketahui adalah dugaan Az-Zamakhsyari bahwa Ibnu 'Amir membaca qiraatnya ini berdasarkan pendapatnya sendiri semata, pada-hal yang benar tidak demikian. Az-Zamakhsyari tidak mengetahui bahwa dalam bacaan ini kata aulad dinashabkan (dibaca aulada), dan kata inilah yang memisahkan antara mudhaf (yaitu qatlu) dan mudhaf ilaihnya (yaitu syuraka-ihim). Dan bacaan ini, jelas bersumber dari Rasulullah saw. yang membacanya demikian di hadapan Jibril sarna seperti pada saat ayat itu diturunkan. Ketika itu Rasulullah membacakannya kepada sejumlah orang yang mencapai persyaratan tawatur, dan kemudian orang-orang ini meriwayatkan dan membacakannya kembali kepada orang-orang lain sesudahnya sampai kepada Ibnu 'Amir. Dan Ibnu 'Amir membacanya persis seperti apa yang didengarnya. Ini adalah keyakinan para ahli yang benar-benar mengetahui tentang tujuh macam bacaan (qiraat) yang diwariskan secara mutawatir dari Rasulullah saw.
Dengan demikian jelaslah bahwa dalam kitab Al-Kasysyaf terdapat banyak pendapat Az-Zamakhsyari yang bertentangan dengan beberapa jenis bacaan (qiraat) yang benar, karena dia terpengaruh oleh mazhab nahwu yang dianutnya.

3. Penyimpangan Tafsir oleh Orang yang Tidak Menguasai Kaidah Tata Bahasa Arab
Para ulama mufassirin mencantumkan kriteria seorang ahli tafsir di antanya adalah memiliki ke ahlian dalam kaidah tata bahasa arab. Seorang yang tidak mengetahui tata kaidah bahasa arab akan cenderung melakukan penyelewengan terhadap menafsirkan al Quran, dan ada kecenderungan menafsirkan berdasarkan keinginannya sendiri. Sebagai contoh sebuah ayat yang ditafsirkan oleh sekelompok kaum Mu'tazilah dalam menafsirkan Surat al Baqarah : 255.

وسع كرسيه السموات ولارض
Ilmu Allah meliputi langit dan bumi

Ayat tersebut di kaitkan dengan syair arab yang tidak terkenal :

ولا يكرسئ علم الله مخلق
Tidak ada satu makhlukpun yang mengetahui ilmu Allah.
Ibnu Qutaibah menyatakan bahwa ayat tersebut di tafsirkan oleh sekelompok kaum Mu'tazilah seakan akan bermakna.

ولا يعلم علم الله مخلق
Makhluk tidak mengetahui ilmu Allah.
Padahal dalam kata kursy tidak terdapat hamzah sedangkan dalam kata Yukrisi-u terdapat hamzah. Dia menjelaskan bahwa yang mendorong orang Mu'tazilah menggunakan pemahaman seperti itu dengan meninggalkan makna yang sebenamya adalah karena mereka tidak yakin bahwa Allah itu mempunyai kursi atau singgasana, dan menurut mereka 'arsy mempunyai pengertian yang berbeda.

4. Penyimpangan Tafsir oleh Kaum Teolog
Munculnya berbagai madzhab keagamaan, sangat mempengaruhi tafsir al Quran. Hal itu terjadi karena al Quran merupakan acuan pertama bagi kaum muslimin pendukung madzhab-madzhab tersebut. mereka berusaha mencari dalil untuk mendukung madzahabnya masing-masing, meskipun dengan cara mencocokkan teks atau nash al Quran dengan pandangan madzhabnya itu. Mereka menafsirkannya sesuai dengan jalan pikiran dan keinginannya, serta mena'wilkan ayat yang berbeda dengan pendapat madzhabnya sehingga tidak tampak berlawanan dan bertentangan dengan madzhab serta kepercayaannya.
Ada beberapa aliran kaum teolog islam diantanya Mu'tazilah, Khawarij, Syiah, Murjiah, Asyariah, dan lain sebagainya. Kesemuanya kebanyakan dalam menafsirkan al Quran
berdasarkan jalan pikirannya yang kadang menyeleweng dari makna yang sebenarnya. Selain itu juga bisa masuk kelompok kaum teolog adalah kalangan sufi, khusunya ahli sufi terdahulu yang selalu bercampur baur dengan kalangan filosof, yang pada akhirnya banyak menaruh perhatian terhadap pikiran-pikiran filosofis.
Sebagai contoh bisa dikemukakan bahwa Ibn Al-Arabi, Abu Yazid Al Bustami, Al Hallaj dan lainnya, mereka cenderung menafsirkan ayat-ayat al Quran sejalan dengan pendapatnya tentang Wihdatul wujud ( panteisme ). Pendapat inilah yang menyebabkan Al Hallaj berani mengatakan "aku adalah Allah " dan juga Ibn Al Arabi mengatakan bahwa anak sapi yang di sembah Bani Israil adalah manifestasi dari Allah. Ibnu al Arabi dalam kitabnya Futhatul Makiyah menafsirkan surat al Isra : 23.

والهكم اله واحد
Dan tuhanmu adalah tuhanyang esa.
Ibnu al Arabi mengatakan bawah dalam ayat ini Allah berbicara dengan kaum muslimin tentang orang-orang yang menyembah benda-benda selain Allah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, sebenarnya sama dengan menyembah Allah juga. Selanjutnya al Arabi juga menjelaskan bahwa "ingatlah ketika mereka mengatakan: sebenarnya kami menyembah benda-benda ini hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah", sambil mengemukakan alasan mereka. Kemudian Allah pun berfirman kepada kita bahwa sesungguhnya tuhanmu dan tuhan yang di sembah oleh orang orang musyrik dengan perantara benda-benda sesembahan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, adalah sama; karena itu sebenarnya kamu semua tidak berbeda dalam pengakuanmu terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu .

5. Penyimpangan Tafsir oleh Para Ilmuwan
Di antara para ulama di zaman dahulu maupun di zaman sekarang ada yang berpendapat bahwa di samping ilmu agama al Quran juga berisi keterangan-keterangan tentang ilmu-ilmu duniawi dengan segalan macam jenis dan coraknya. Sebagai akibatnya mereka mencoba untuk mencari istilah-istilah keilmuan dari dalam pernyataan-pernyataan al Quran, berusaha mengungkapkan semua ilmu kealaman sehingga menyatakah bahwa semua ilmu yang kita dapati sekarang hingga ahli kiamat sudah ada dalam al Quran tergantung kita dapat menggalinya atau tidak .
Contoh dalam hal ini adalah sebagaimana yang di ungkapkan oleh As-Suyuthi dari beberapa ulama yang menyatakan bahwa umur Nabi Muhammad adalah 63 tahun tersebut bisa di ketahui dalam surat Al Munafiqun ayat 11, yang berbunyi:

ولن يؤاخر الله اذا جاء احلها
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorangjika telah datang saatnya.
Surat Al Muafiqun ini kemudian diikuti oleh surat At Taghabun yang secara harfiah berarti saling menipu, karena pada saat itu terjadi usaha-usaha untuk saling menipu mengenai berita wafatnya Nabi .
Masih banyak contoh lain yang mengungkapkan adanya relefansi al Quran dengan ilmu pengetahuan meskipun banyak yang menyelewengkan dalam penafsirannya. Al Quran akan terus sejalan dengan teori teori dan kaidah kaidah keilmuan selama teori-teori dan kaidah-kaidah tersebut dilandasi oleh prinsip kebenaran dan bersumber pada realitas yang benar pula.

6. Penyimpangna Tafsir oleh Kaum Pembaharu Islam
Bila kita meneliti pendapat-pendapat dari kelompok mufassir al Quran, kita dapat menemukan banyak contoh yang menunjukkan bahwa penafsiran mereka menyimpang dan keliru. Di antara mereka ada yang karena keinginannya untuk melakukan pembaharuan lantas melakukan penyimpangan-penyimpangan dengan mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan hukum dan hukuman dalam syariat Islam telah ketinggalan zaman. Karena itu mereka mena'wilkan ayat-ayat mengenai hukuman (hudud) secara tidak benar. Mereka memahami fiil amar dalam ayat-ayat yang berkaitan dengannya sebagai kebolehan yang pelaksanaannya di serahkan kepada pemerintah, jika ia mau melaksanakannya dan jika tidak maka tidak apa-apa. Pendapat ini dapat di baca dalam artikel yang berjudul Hukum Mesir dan Hubungannya dengan Hukum Islam . Dia mengatakan bahwa "ayat-ayat yang tertulis dalam hukum hudud, diantaranya dalam surah Al Maidah: 38-39, juga surah An Nur: 2, adalah fiil amar yang perlu dipermasalahkan dan dibahas secara tenang. Dalam ayat ini saya telah menemukan cara baru untuk menghilangkan hambatan yang ada demi terlaksananya hukum islam yang bersumber pada ayat tersebut.
Penulis artikel tesebut menyimpulkan bahwa hukum potong tangan bukanlah hukuman wajib yang tidak boleh diganti dengan hukuman keras lainnya pada kondisi tertentu. kedudukannya tidak berbeda dengan sesuatu yang mubah, yang tunduk kepada kebijakan pemerintah dan dapat jiga bervariasi karena kondisi waktu dan tempat. Dia mena'wilkan ayat tentang tidakan pidana pencurian dan perzinaan dengan cara yang tidak dapat di terima dan buat keliru dalam memahami kata kerja perintah di dalamnya. Perubahan makna dari wajib menjadi boleh pada ayat tersebut sungguh tidak masuk akal, karena kewajiban potong tangan bagi pencuri adalah perintah yang harus dilakukan.

bersambung...

2 komentar:

Akun Sandi mengatakan...

makasih mas atas pengetahuannya.
Saya mahasiswa UII jurusan Hukum ISlam (Syariah) sangat membutuhkan artikel ini sebagai bahan dalam penyusunan tugas makalah.
semoga dilain kesempatan kita bisa bertukar fikiran

zm mengatakan...

Kembalikan saja kepada Al Quran, karena sesungguhnya tafsir, hadits, buku buku hadits, perawi hadits, bahkan sunnah rasul satupun diantara mereka yang terjaga, kecuali al quran. maka kembalikanlah semuanya kepada al quran